Value Investing

Value Investing adalah salah satu filosofi dan strategi investasi yang sering dibicarakan oleh para pelaku dunia investasi namun secara faktual sangat sedikit yang benar-benar menerapkannya. Hal ini karena value investing menuntut seorang investor untuk memiliki kedewasaan psikologis dalam bentuk kesabaran serta keberanian untuk mengambil keputusan yang berbeda dari orang banyak. Di antara tokoh-tokoh yang terkenal sebagai value investor di antaranya adalah Benjamin Graham, Warren Buffet dan rekannya Charlie Munger, Irving Kahn, William J. Ruane, Walter Schloss, Charles Brandes, Peter Cundill, Mario Gabelli, Seth Klarman, Michael Larson, Martin J. Whitman, Joel Greenblatt, dan lainnya. Banyak buku yang ditulis untuk membahas value investing, namun bagi saya, buku yang paling mendasar untuk dipelajari bagi setiap value investor adalah The Intelligent Investor yang ditulis oleh Benjamin Graham yang mendapat julukan sebagai The Father of Value Investing.

Walaupun banyak nama-nama besar yang dikaitkan dengan value investing, sayangnya dilingkungan akademis, filosofi dan strategi investasi ini seperti kurang mendapat tempat jika dibandingkan dengan Modern Portfolio Theory. Bahkan ketika saya menjalani pendidikan S2 saya di Perancis, kurikulum yang tersedia hanya terkait Modern Portfolio Theory. Untungnya di kelas seminar, modul tentang Business Valuation termasuk salah satu materi yang diajarkan.

Lantas, value investing itu apa sih ?

Mengutip dari Margin of Safety karangan Seth Klarman:

“Value investing is the discipline of buying securities at significant discount from their current underlying values and holding them until more of their value is realized. The element of a bargain is the key to the process. In the language of value investors, this is referred to as buying a dollar for fifty cents. Value investing combines the conservative analysis of underlying value with the requisite discipline and patience to buy only when sufficient discount from that value is available. The number of available bargains varies, and the gap between the price and value of any given security can be very narrow or extremely wide. Sometimes a value investor will review in depth a great many potential investments without finding a single one that is sufficiently attractive. Such persistence is neccessary, however, since value is often well hidden.”

Secara sederhana, value investing adalah membeli saham atau surat berharga lainnya pada harga yang lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Terlalu sederhana ? Kesederhanaan value investing hanya sebatas pada definisinya, sedangkan implementasinya membutuhkan usaha, kesabaran dan kehati-hatian dalam melakukan analisa.

Apakah value investing menjamin kinerja investasi yang luar biasa ? Berdasarkan data-data historis yang ada, value investors yang saya sebutkan di paragraf pertama telah membuktikan keberhasilan value investing.

Lantas, mengapa banyak investor ritel yang gagal ketika berusaha menerapkan strategi ini ?

Menurut saya, kegagalan yang terjadi sebagian besarnya karena terlalu menyederhanakan analisa, tidak konsisten dalam menerapkan strategi, dan yang paling sering terjadi ketidakmampuan untuk keluar dari bias-bias psikologis seperti gampang terpengaruh dengan analisa-analisa yang berseliweran di dunia maya. Ditambah lagi kesalahpahaman bahwa value investing adalah sama dengan cheap investing, yaitu investasi pada saham-saham gurem.

Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa value investing memiliki banyak variasi dalam pendekatan nilai yang digunakan. Sangat mungkin terjadi nilai instrinsik yang diperoleh seorang investor berbeda dengan nilai intrinsik yang diperoleh investor lainnya. Namun bagi saya hal ini bisa diminimalisir dengan menerapkan konsep margin of safety dengan disiplin sebelum memutuskan investasi.

Secara pribadi saya berpendapat bahwa value investing adalah satu-satunya pendekatan investasi yang masuk akal bagi investor. Namun demikian, filosofi dan strategi ini tidak dapat dilaksanakan oleh kalangan yang malas untuk melaksanakan tugas rumahnya sebelum berinvestasi dan cenderung berharap memperoleh kekayaan dalam waktu singkat.

Sebagai penutup, saya ingin berbagi pesan yang disampaikan oleh Warren Buffett:

Your goal as an investor should simply be to purchase, at a rational price, a part interest in an easily-understandable business whose earnings are virtually certain to be materially higher five, ten and twenty years from now. Over time, you will find only a few companies that meet these standards – so when you see one that qualifies, you should buy a meaningful amount of stock. You must also resist the temptation to stray from your guidelines: If you aren’t willing to own a stock for ten years, don’t even think about owning it for ten minutes. Put together a portfolio of companies whose aggregate earnings march upward over the years, and so also will the portfolio’s market value.”

~cheers~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s