Aku Ingin Kaya

Bagi mayoritas kita kalangan kelas menengah ke bawah di Indonesia, untuk mengungkapkan pernyataan “aku ingin kaya” mungkin masih merupakan hal yang tabu. Jangankan mengungkapkannya di depan orang lain, mengungkapkannya dalam benak pikiran kita sendiri mungkin akan menimbulkan perasaan bersalah. Apakah keinginan menjadi kaya merupakan suatu hal negatif ?

Bagi saya pribadi, pandangan negatif tersebut karena selama ini kekayaan diasosiasikan dengan KKN (bukan Kuliah Kerja Nyata), tamak, sombong, pelit, merendahkan orang lain dan masih banyak hal-hal negatif lainnya. Jarang sekali kita memperoleh contoh kasus dimana kekayaan dapat diasosiasikan dengan hal-hal positif seperti kerja keras, kejujuran, rendah hati, dermawan, menghargai orang lain dan hal-hal positif lainnya. Kondisi seperti inilah yang mengakibatkan kebanyakan kita cenderung untuk melihat kekayaan sebagai suatu aib, sesuatu hal yang bersumber dan berakhir dengan hal-hal yang tidak baik. Setidaknya ini dari pengalaman pribadi saya sendiri.

Persepsi negatif atas kekayaan ini menyebabkan munculnya sikap sinis terhadap kekayaan dan berbagai macam hal yang berhubungan dengan kekayaan. Termasuk keinginan menjadi kaya. Sayangnya, bagaimanapun kita membenci kekayaan, pada satu titik kita akan berhadapan dengan kondisi dimana kita membutuhkan kekayaan tersebut dan selama kita masih memiliki kelebihan dari yang kita butuhkan untuk bertahan hidup maka artinya kita masih memiliki kekayaan.

***

Sebelum beranjak lebih jauh, saya ingin memberi batasan atas apa yang saya maksud sebagai kekayaan. Secara pribadi saya mendefinisikan kekayaan pribadi kurang lebih sama dengan net worth, yaitu selisih antara aset, baik yang tangible maupun intangible, dan kewajiban. Tangible asset adalah aset yang berwujud seperti properti (baik yang digunakan sendiri maupun yang disewakan), kenderaan bermotor (baik yang digunakan sendiri maupun yang disewakan), rekening investasi, tagihan asuransi, rekening tabungan dan uang kas. Intangible asset adalah aset yang tidak berwujud seperti kesehatan, waktu luang, kreatifitas, keahlian, pengetahuan, rekam jejak yang baik serta jaringan. Kewajiban misalnya hutang KPR, hutang Kartu Kredit, hutang Kredit Serba Guna dan semisalnya.

Dengan demikian, kekayaan seseorang adalah nilai aset bersih yang dimiliki setelah dikurangi dengan seluruh kewajiban. Seseorang bisa saja memiliki tangible net worth yang negatif semisal kondisi yang dialami mayoritas penduduk Indonesia ketika terjadi krisis keuangan tahun 1996-1998. Namun selama dia masih memiliki intangible asset yang lebih besar dari tangible net worth maka dia masih memiliki total net worth yang positif. Tentunya sulit bagi kita untuk mengukur secara akurat nilai dari intangible aset yang kita miliki tersebut, bahkan salah satunya seperti kesehatan, nilainya tidak terukur. Sepatutnya intangible aset adalah hal terpenting dalam balance sheet seseorang, namun sayangnya kebanyakan kita cenderung untuk mengabaikannya dan membiarkannya usang dimakan usia. 

***

Tatkala kita membicarakan tentang sumber kekayaan, maka kekayaan fisik yang kita miliki bisa berasal dari mana saja. Baik karena mendapatkan warisan, menemukan harta karun, memenangkan undian, mencuri, melakukan kecurangan dan lain sebagainya. Kekayaan fisik tersebut juga bisa berasal dari menciptakan produk/jasa yang diinginkan oleh orang banyak, membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh orang lain dan lain sebagainya. Kekayaan adalah suatu keadaaan yang mana sumbernya bisa saja berasal dari hal-hal yang positif maupun negatif.

Begitu juga halnya ketika kita membicarakan tentang bagaimana kekayaan digunakan. Kekayaan bisa digunakan untuk memenuhi hasrat hewani, bermegah-megahan menyombongkan diri dan semisalnya. Disisi lain, kekayaan juga dapat digunakan untuk membantu orang lain yang membutuhkan dana untuk pendidikan, riset, pelayanan kesehatan dan mengembangkan ide bisnis. Kekayaan adalah suatu keadaan yang mana penggunaannya bisa saja untuk hal-hal yang positif maupun negatif.

Nilai dari kekayaan berkaitan erat dengan individu yang memilikinya. Ditangan individu-individu yang bertanggung jawab, kekayaan akan datang melalui cara-cara yang baik dan dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik. Sebaliknya, ditangan individu-individu yang tidak bertanggung jawab, kekayaan akan datang melalui cara-cara yang merugikan orang lain dan dihabiskan untuk hal-hal yang sia-sia.

***

Sudah saatnya individu-individu yang bertanggung jawab untuk memiliki keinginan menjadi kaya. Bukan hanya memiliki kelebihan dalam bentuk intangible asset namun juga kelebihan dalam bentuk tangible asset. Kekayaan adalah alat bantu untuk mencapai tujuan-tujuan yang jauh lebih mulia. Kekayaan dengan sendirinya tidak memiliki sifat baik atau buruk. Kebaikan atau keburukan yang seolah-olah tampak berasal dari kekayaan sebenarnya hanyalah refleksi dari sifat individu yang memilikinya.

~cheers~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s