Beli Murah, Jual Mahal

Jika seseorang bertanya tentang “apa sih rahasia kesuksesan seorang investor dalam berinvestasi?”, jawabannya yang paling sering berulang adalah “buy low, sell high” atau jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi Beli Murah, Jual Mahal. Jangankan investor ternama, orang awam pun secara logika juga tahu kalau investasi itu kuncinya ya Beli Murah Jual Mahal. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita tahu what is low and what is high?

Buy low, sell high merupakan tips sederhana di dunia investasi namun justru menjadi tips yang paling kompleks nan rumit bagi para investor terutama investor ritel untuk mengaplikasikannya. Oleh Karena itu, banyak investor pemula yang masuk ke pasar saham tapi tidak memiliki acuan yang jelas kapan mereka harus membeli saham dan kapan mereka harus menjualnya.

So, what is low and what is high?

Secara sederhana ada dua tipe jawaban dari dua investor yang berbeda.

  • Investor yang pertama menjawab bahwa, low and high semata-mata ditentukan oleh ekspektasi atas pergerakan harga suatu saham di masa depan, serta mendasarkan keputusan investasinya pada perilaku harga dari saham tersebut.
  • Sedangkan investor yang kedua akan menjawab bahwa low and high ditentukan berdasarkan fundamental dari suatu saham, serta sejauh mana harga pasar saham tersebut menyimpang dari nila intrinsiknya

Pendekatan yang digunakan oleh investor pertama dikenal dengan istilah technical analysis, yaitu menggunakan data pergerakan harga dari suatu saham di masa lalu untuk memperkirakan pergerakan harga saham tersebut di masa yang akan datang. Sedangkan pendekatan yang digunakan oleh investor kedua dikenal dengan istilah fundamental analysis dan value investing, yaitu mengukur nilai intrinsik dari suatu saham berdasarkan data-data fundamental dan kemudian membandingkannya dengan harga pasar saham tersebut untuk memutuskan pembelian atau penjualan.

Dengan perbedaan tersebut, lalu investor manakah yang lebih tepat dalam mendefinisikan low and high dalam “buy low, sell high” ?

***

Bagi saya pribadi, interpretasi value investing atas “buy low, sell high” lebih masuk akal dibandingkan interpretasi technical analysis. Value investing mendefinisikan buy low dengan membeli ketika harga pasar suatu saham lebih rendah dari nilai intrinsiknya dan sell high didefinisikan dengan menjual ketika harga pasarnya lebih tinggi dari nilai intrinsiknya. Dalam hal ini, variabel yang penting untuk diketahui oleh seorang investor adalah adalah estimasi nilai intrinsik suatu saham.

Adapun technical analysis menurut saya merupakan suatu pendekatan yang tidak masuk akal. Mengapa? Karena pendekatan ini kurang lebih sama dengan permainan tebak-tebakan dengan hanya berdasarkan pola yang telah diketahui sebelumnya dan berharap bahwa akan ada investor lain yang akan membeli/menjual saham yang telah kita beli/jual pada harga yang lebih tinggi/rendah dari harga pembelian/penjualan kita.

Howard Marks dalam bukunya The Most Important Thing berkomentar tentang technical analysis, momentum investing dan day trading:

I’ve never understood how people reach conclusion like these. I liken it to trying to guess whether the next person to come around the corner will be male or female. The way I see it, day traders considered themselves succesful if they bought a stock at $10 and sold it at $11, bought it back the next week at $24 and sold at $25, and bought it a week later at $39 and sold at $40. If you can’t see the flaw in this -that the trader made $3 in a stock that appreciated by $30- you probably shouldn’t read the rest of this book.” 

“Saya tidak paham bagaimana orang-orang bisa memperoleh kesimpulan dengan cara ini (technical analysis atau momentum investing -pen). Saya menyamakan hal ini dengan mencoba menebak apakah orang yang akan muncul dari tikungan adalah seorang pria atau wanita. Yang terlihat oleh saya, seorang day trader menganggap dirinya sukses jika ia membeli suatu saham seharga $10 dan menjualnya diharga $11, kemudian membeli kembali saham tersebut di minggu berikutnya pada harga $24 dan menjualnya pada harga $25, kemudian pada minggu berikutnya dia membeli saham yang sama pada harga $39 dan menjualnya pada harga $40. Jika anda tidak dapat melihat ada sesuatu yang salah dalam aktifitas ini -bahwa sang trader hanya memperoleh keuntungan $3 dari saham yang harganya meningkat $30- maka mungkin sebaiknya anda tidak perlu melanjutkan membaca buku ini hingga selesai.

***

Ok, setelah membaca bagian pertama di atas maka mungkin Anda pun kemudian mulai berfikir untuk beralih menjadi value investor. Jika ya, maka saya ucapkan selamat untuk Anda.

Namun sayangnya, beralih menjadi seorang value investor bukan berarti Anda akan dengan mudah melipatgandakan uang Anda dalam waktu singkat. Ingat, good thing takes time. Bahkan Warren Buffett mengungkapkan: “Successful investing takes time, discipline, and patience. No matter how great the talent or effort, some things just take time. You can’t produce a baby in one month by getting nine women pregnant.

Hal paling mendasar dalam value investing adalah value. Ketika Anda memutuskan menjadi value investor maka artinya Anda mendasarkan keputusan investasi Anda pada estimasi nilai intrinsik saham yang dihitung dengan seteliti dan seakurat mungkin berdasarkan seluruh informasi yang tersedia. Tujuan dari seorang value investor adalah membeli suatu saham dengan harga yang jauh di bawah nilai intrinsiknya berdasarkan kalkulasi yang teliti dan akurat.

Selain akurasi dalam estimasi nilai intrinsik, hal penting lainnya yang perlu dipahami seorang value investor adalah keyakinan yang kuat atas hasil analisa yang diperoleh. Hal ini karena di dunia investasi, hasil analisa yang benar bukan berarti akan dapat langsung terbukti kebenarannya dalam waktu singkat.

Konsisten dalam mengambil keputusan yang tepat dalam investasi merupakan hal yang sangat sulit, bahkan merupakan hal yang mustahil untuk dapat konsisten dalam mengambil keputusan yang tepat pada saat yang tepat. Hal terbaik yang dapat dilakukan oleh seorang value investor adalah memperoleh nilai intrinsik yang akurat dari suatu saham dan membeli saham tersebut ketika ditransaksikan pada harga yang lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Namun hal tersebut tidak menjamin bahwa Anda akan segera mendapat keuntungan, bahkan sangat mungkin Anda menghadapi potensi kerugian pada portofolio Anda. Anda dapat bertahan ditengah potensi kerugian ini hanya jika Anda memiliki keyakinan yang kuat atas hasil analisa Anda.

Agar lebih jelas, saya berikan ilustrasi contoh seperti ini:

Berdasarkan hasil Analisa Anda, Anda mengetahui bahwa nilai intrinsik suatu saham adalah Rp 1,000.00 dan Anda memiliki kesempatan untuk membeli saham tersebut pada harga Rp 500.00. Kesempatan untuk membeli pada harga yang jauh di bawah nilai intrinsik seperti ini tidak terjadi setiap hari dan Anda pun menyambutnya dengan baik. Anda membeli saham tersebut pada harga Rp 500.00 dan Anda merasa telah mengambil tindakan yang tepat berdasarkan analisa anda.

Namun, jangan dulu berharap Anda akan segera memperoleh keberhasilan. Faktanya, seringkali Anda akan dapati bahwa Anda melakukan pembelian di tengah tren penurunan yang berkelanjutan yang membuat Anda harus berhadapan dengan potensi kerugian (unrealized) dalam portofolio Anda. Nah, Misalkan saham yang Anda beli malah kembali turun menjadi Rp 400.00, maka apa yang akan Anda lakukan ?

***

Di dunia investasi banyak orang yang cenderung untuk semakin jatuh cinta dengan saham yang mereka beli ketika harganya naik karena mereka merasa terbukti benar dan juga sebaliknya cenderung menjadi tidak menyukai saham tersebut jika harganya turun karena mereka mulai meragukan analisa dan keputusan mereka untuk membelinya.

Perilaku ini menyebabkan seorang investor sangat sulit untuk bertahan dan menambah posisinya ketika harga sahamnya turun lebih rendah terutama jika penurunannya sangat signifikan. Seharusnya, jika anda menyukai saham tersebut pada harga Rp 500.00 maka Anda akan lebih menyukainya pada harga Rp 400.00 dan Rp 300.00. Namun ini tidak mudah, tidak ada seorangpun yang nyaman menghadapi potensi kerugian. Seringkali pada akhirnya dalam kondisi seperti ini, seorang investor akan berfikir, “mungkin bukan aku yang benar, tapi pasar” Kondisi akan semakin berbahaya tatkala seseorang mulai berfikir, “Harganya sudah turun banyak, sebaiknya saya segera keluar dari posisi ini sebelum harganya menjadi Rp 0,-” Pemikiran seperti inilah yang menciptakan level harga terendah dan menyebabkan seseorang menjual portofolionya pada level tersebut.

Hanya memiliki opini yang akurat tentang nilai intrinsik suatu saham tanpa memiliki keyakinan yang kuat atas opini tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa. Sebaliknya, memiliki opini yang tidak akurat dengan keyakinan yang sangat tinggi malah justru akan menghasilkan kondisi yang lebih buruk. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya untuk bisa bertindak tepat dalam segala aspek dalam value investing. Anda tidak hanya dituntut untuk akurat namun juga dituntut untuk memiliki kedisiplinan dan kekuatan emosional untuk bertahan dengan hasil analisa Anda.

Value investor memperoleh keuntungannya ketika mereka membeli aset yang “murah”, terus mengakumulasi posisi ketika harga aset tersebut turun dan kemudian pada akhirnya hasil analisa mereka terbukti benar. Karenanya, dua hal yang sangat pokok untuk memperoleh keuntungan dari kondisi pasar yang terus menurun: (1) Anda harus memiliki view tentang nilai intrinsik, dan (2) Anda harus memiliki keyakinan yang tinggi terhadap view tersebut sehingga Anda mampu untuk mempertahankan posisi Anda dan bahkan tetap membeli meskipun berhadapan dengan harga yang terus turun seolah-olah menyatakan bahwa hasil analisa anda keliru. Dan tentu saja, pada akhirnya view tentang nilai intrinsik yang anda peroleh harus tepat dan akurat. Tanpa ketepatan dan akurasi, berarti anda sedang membakar uang anda sendiri.

~cheers~

Disadur dari The Most Important Thing karya Howard Marks

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s