Pemodal vs Pebisnis

“I am a better investor because I am a businessman and a better businessman because I am an investor.”

-Warren Buffett-

***

Dalam postingan kali ini saya ingin berbagi tentang salah satu konsep yang sangat penting, baik dalam dunia investasi maupun dunia bisnis. Konsep ini menekankan pentingnya bagi seorang investor (pemodal), terutama investor ritel, untuk bertindak layaknya seorang businessman (pebisnis) dalam mengelola investasinya dan sebaliknya seorang businessman juga penting untuk bertindak layaknya sebagai seorang investor dalam menjalankan bisnisnya.

Secara bahasa, investor dan businessman memiliki makna yang berbeda. Dalam KBBI, Pemodal diartikan sebagai orang yang mempunyai modal; orang yang biasa menanamkan modal, sedangkan Pebisnis diartikan sebagai orang yang secara komersial berusaha dalam dunia perdagangan; orang yang melakukan bisnis.

Dikotomi antara Pemodal dan Pebisnis dapat kita lihat jelas pada struktur suatu perusahaan. Pemodal adalah individu atau institusi yang memiliki saham dari suatu perusahaan dan Pebisnis adalah individu atau tim manajemen yang menjalankan perusahaan tersebut. Idealnya, Pebisnis adalah Pemodal yang menanamkan modalnya dalam bisnis tersebut. Namun demikian, dalam kehidupan, ideal bukanlah kondisi yang dapat kita temui setiap saat.

Lantas, dari sudut pandang seorang investor ritel, apa pelajaran yang patut diperhatikan dari konsep ini ?

Kita dapat menjadi investor yang lebih baik jika kita memiliki pendekatan layaknya seorang businessman dalam mengelola investasi. Artinya, sebelum kita memutuskan untuk  berinvestasi pada suatu saham, maka kita terlebih dahulu mempelajari seluruh aspek penting dari perusahaan tersebut. Hal ini bukan berarti kita harus mengetahui secara detail tentang suatu perusahaan, namun setidaknya kita memiliki pemahaman yang sama baiknya dengan individu atau tim manajemen yang menjalankan perusahaan tersebut sehingga kita dapat menilai seberapa besar prospek dari perusahaan tersebut kedepannya dan berapa harga yang wajar jika kita memutuskan untuk membeli saham perusahaan tersebut.

Mekanisme investasi yang saya sampaikan di atas memang terlihat merepotkan, namun hal tersebut akan menyelamatkan kita dari mengambil keputusan investasi yang salah. Bayangkan, berapa banyak di antara kita investor ritel yang membeli saham suatu perusahaan namun sama sekali tidak mampu untuk memaparkan setidaknya apa model bisnis yang dijalankan oleh perusaahaan. Dengan kondisi seperti ini, lantas apa selama ini yang menjadi landasan kita tatkala kita memutuskan membeli suatu saham ?

Dengan berinvestasi menggunakan pendekatan layaknya seorang businessman, maka kita secara otomatis akan menyaring perusahaan-perusahaan yang akan kita jadikan target investasi. Mengapa demikian ? Karena sebagai investor ritel kita memiliki keterbatasan sumber daya. Merupakan hal yang mustahil jika kita dapat mengusai dan memahami bisnis dari seluruh perusahaan yang ada di bursa, tidak hanya karena kapasitas pengetahuan individual kita yang terbatas namun juga keterbatasan waktu yang kita miliki untuk memonitor seluruh perusahaan tersebut. Seorang investor ritel yang cerdas akan fokus pada perusahaan-perusahaan yang berkualitas dan bisnisnya dapat dia pahami dengan mudah, sebagaimana layaknya seorang businessman.

Penguasaan kita terhadap bisnis dari perusahaan yang menjadi target investasi kita selanjutnya akan membantu kita untuk melakukan valuasi dengan asumsi-asumsi yang logis dan tidak berlebihan (tidak over optimistic dan tidak over pessimistic). Valuasi fokus terhadap proyeksi arus kas yang dihasilkan suatu perusahaan di masa depan. Jika kita tidak mampu untuk memproyeksikan arus kas suatu perusahaan dengan mudah dengan tingkat keyakinan yang memadai, itu artinya bisnis perusahaan tersebut tidak mudah untuk kita pahami. Tentunya merupakan tindakan yang bijak untuk mengabaikan target investasi dengan karakter seperti ini.

***

“The basic ideas of investing are to look at stocks as business, use the market’s fluctuations to your advantage, and seek a margin of safety. That’s what Ben Graham taught us. A hundred years from now they will still be the cornerstones of investing.”

-Warren Buffett-

***

Pasar saham adalah pasar yang kompetitif. Setiap pemain di dalamnya berusaha untuk mengungguli pemain lainnya. Setiap investor ritel perlu memahami struktur pasar saham yang dikuasai oleh investor institusi dengan pasukan tim analis dan sumber daya informasi yang lengkap serta investor individu yang memiliki keunggulan dalam hal informasi. Dengan menggunakan pendekatan investasi layaknya seorang businessman, maka kita setidaknya memiliki kesempatan untuk bersaing dengan pemain-pemain besar tersebut ketimbang hanya menjadi objek yang dimanfaatkan.

Oleh karena itu, mulai hari ini, mari abaikan semua informasi yang anda terima dari pihak ketiga dan selesaikan pekerjaan rumah anda sendiri. Seleksi perusahaan-perusahaan yang bagus, baca laporan tahunan mereka beberapa periode kebelakang, pelajari bisnis dan industrinya dan kemudian putuskan mana target investasi anda serta pada harga berapa anda akan membeli sahamnya. Jika anda tidak bersedia melakukan hal-hal tersebut, maka sebaiknya anda investasikan dana anda pada reksadana indeks atau pada investor yang menjalankan proses tersebut dalam pengelolaan investasinya.

***

~cheers~

 

 

2 thoughts on “Pemodal vs Pebisnis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s