Investor Cerdas Paham Siklus

“Those that fail to learn from history, are doomed to repeat it”

Winston Churchill

***

Seberapa sering anda mendengar proyeksi-proyeksi optimistis tentang pasar saham dari “para pengamat” ketika pasar dalam posisi tertinggi sepanjang sejarah ? Sebaliknya, seberapa sering anda mendengar proyeksi-proyeksi pesimistis ketika pasar saham berada dalam posisi terendah ?

Kita, sebagai manusia, dengan segala keterbatasan yang kita miliki cenderung untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan dengan melakukan ekstrapolasi atas apa yang kita alami saat ini. Jika tahun ini pasar saham naik dan menyentuh level tertinggi dalam sejarah, maka kita akan dengan sangat mudah untuk berekspektasi bahwa pasar saham akan kembali naik tahun depan. Sebaliknya, jika tahun ini pasar saham turun, maka kita juga akan dengan sangat mudah untuk berekspektasi bahwa pasar saham akan kembali turun tahun depan.

Mengapa hal ini terjadi ?

Alasan pertama, karena secara psikologis manusia cenderung menjadi optimistis secara berlebihan ketika baru saja mengalami hal yang menyenangkan dan sebaliknya menjadi pesimistis secara berlebihan ketika baru saja mengalami hal yang tidak menyenangkan. Alasan kedua, karena kebanyakan kita tidak menyadari bahwa banyak hal-hal yang terjadi disekitar kita merupakan siklus selayaknya musim yang berganti, siang dan malam, termasuk pasar saham dan kondisi perekonomian.

Namun pada postingan kali ini, saya tidak akan menyentuh aspek bias psikologis manusia. Obyek yang akan saya share kali ini adalah tentang siklus dalam perekonomian dan mengapa investor yang baik harus memahami tentang siklus ini.

***

Di bawah ini adalah grafik GDP atau PDB Indonesia. Seperti dapat kita lihat, grafik ini menunjukkan pertumbuhan GDP yang positif dan relatif mulus kecuali pada akhir 1990-an (krisis moneter/nilai tukar) dan awal 2010-an (krisis harga komoditas). Pada periode 1980-an, Indonesia juga mengalami perlambatan ekonomi yang disebabkan krisis harga minyak dunia. Secara sekilas, krisis 1998 dan krisis 2013 terjadi karena hal yang berbeda, jatuhnya nilai tukar dan harga komoditas. Namun jika kita dalami lebih lanjut, maka kita akan menemukan benang merah antara kedua krisis ini, yaitu kredit.

Indonesia GDP

Kredit saat ini merupakan variabel terpenting dalam perekonomian modern. Bahkan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi jauh lebih penting daripada perubahan teknologi. Dengan adanya kredit, individu/perusahaan dapat meningkatkan pengeluarannya, baik untuk konsumsi maupun investasi. Konsumsi dan investasi yang meningkat pada gilirannya akan mendorong peningkatan produksi yang secara agregat akan meningkatkan aktifitas perekonomian yang diukur oleh nilai pasar dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu ekonomi.

Jika kita perhatikan, beberapa tahun sebelum terjadi perlambatan ekonomi pada dua periode tersebut (akhir 1990-an & awal 2010-an), Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan. Dalam periode-periode tersebut, pertumbuhan kredit meningkat cukup tajam terutama pada tahun-tahun sebelum krisis moneter 1998. Sayangnya, pertumbuhan kredit yang terjadi cenderung tidak memperhatikan risiko karena tekanan kompetisi serta keinginan untuk tumbuh yang tidak masuk akal (greedy).

Indonesia Loan Growth

Ketika pada akhirnya para peminjam tersebut tidak dapat mengembalikan kredit yang diterima baik karena nilai tukar yang meingkat tajam (krisis 1998) atau karena harga komoditas andalan (batu bara & CPO) yang anjlok (krisis 2013), maka sektor perbankan berbalik menjadi defensif dan menahan pemberian kredit baru. Efek dari terbatasnya kredit yang tersedia menyebabkan penurunan tingkat konsumsi dan investasi yang selanjutnya berimbas pada penurunan/perlambatan pertumbuhan ekonomi.

loan growth

***

Berdasarkan fakta historis di atas, dapat kita simpulkan bahwa pertumbuhan perekonomian modern sangat bergantung pada ketersediaan kredit sebagai bahan bakar konsumsi dan investasi. Namun demikian, seluruh kredit yang diberikan tersebut pada akhirnya harus dibayar kembali. Apabila pertumbuhan tingkat pendapatan individu/perusahaan lebih rendah daripada tingkat suku bunga kredit, maka individu/perusahaan akan mengalami kesulitan dalam pembayaran kewajibannya dan akan mengurangi pengeluarannya baik konsumsi maupun investasi.

Idealnya, kredit yang diberikan dapat meningkatkan produktifitas dan pendapatan atau akan tertutupi dengan asumsi peningkatan pendapatan di masa depan (untuk kredit konsumsi). Namun mengingat bahwa proses kredit melibatkan manusia dari sisi penawaran dan permintaannya, maka akan selalu ada potensi terjadinya kekeliruan dan penyimpangan yang mengakibatkan terjadinya siklus kredit.

***

Bagi seorang investor, memahami siklus di atas merupakan hal yang sangat penting. Dalam periode ekspansi, para kreditur (bank maupun non-bank) akan cenderung bersikap tidak hati-hati dan menyalurkan terlalu banyak kredit dengan harga murah. Efeknya adalah peningkatan nilai aset, baik itu properti maupun aset keuangan seperti saham di atas kewajaran. Ketika pada akhirnya para debitur (individu maupun perusahaan) mengalami kesulitan dalam melunasi kredit yang diterima, maka para kreditur akan memperketat pemberian kredit. Efeknya, nilai aset akan anjlok karena terjadi likuidasi terhadap aset properti maupun aset keuangan dalam rangka memperoleh likuiditas.

Dengan mengetahui di mana posisi siklus kredit yang terjadi saat ini, maka seorang investor akan dapat mengambil keputusan investasi dengan baik. Menghindari membeli/menjual aset ketika siklus kredit berada di puncak dan secara agresif membeli aset ketika siklus kredit berada di dasarnya.

Demikian dan semoga bermanfaat….

***

Sebagai tambahan, di bawah ini adalah konten youtube yang sangat menarik dan mudah untuk dicerna terkait siklus kredit, dijelaskan oleh Ray Dalio yang merupakan salah satu hedge fund manager tersukses di dunia. Enjoy….

***

“We conclude that most of the time, the future will look a lot like the past, with both up cycles and down cycles. There is a right time to argue that things will be better, and that is when the market is on its backside and everyone else is selling things at giveaway prices. It’s dangerous when the market is at record levels to reach for a positive rationalization that has never held true in the past. But it’s been done before, and it will be done again.”

Howard Marks

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s