Investasi vs Spekulasi

Bagi teman-teman yang aktif di dunia investasi pasar modal, beberapa waktu belakangan ini pasti sudah sering sekali mendengar, membaca dan melihat kampanye #YukNabungSaham dan #SemuaBisaJadiInvestorSaham yang merupakan inisiatif dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Bagi teman-teman yang belum terlalu mengerti kampanye ini, bisa melihat pada tautan berikut ini.

Terlepas dari tujuan mulia dicanangkannya kampanye #YukNabungSaham dan #SemuaBisaJadiInvestorSaham, Penulis melihat masih ada hal-hal yang perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman oleh masyarakat yang menjadi target dari kampanye tersebut. Apakah benar investasi saham dapat dianggap sebagai aktivitas “menabung” ? Apakah benar bahwa semua orang bisa jadi investor saham ? Banyak penjelasan yang mungkin dapat disampaikan oleh pihak-pihak yang pro terkait dengan pilihan kata dalam kampanye ini, namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa di luar sana ada para praktisi yang menganggap pemilihan kata yang digunakan dalam kampanye tersebut sebagai sesuatu yang kurang lebih dapat dianggap “menyesatkan” bagi masyarakat awam.

Salah satu hal yang Penulis anggap penting terkait maraknya kampanye #YukNabungSaham dan #SemuaBisaJadiInvestorSaham adalah semakin kaburnya perbedaan antara menabung, investasi dan spekulasi dikalangan masyarakat. Ditambah lagi, perusahaan-perusahaan sekuritas juga memiliki kepentingan agar para investor yang menggunakan jasa mereka melakukan transaksi dengan frekuensi dan volume yang setinggi-tingginya. Akibatnya, proses yang seharusnya dilakukan sebagai aktivitas investasi berubah menjadi aktivitas spekulasi, bahkan bisa dibilang berubah menjadi aktivitas “gambling“.

Lantas, apa sih bedanya antara menabung, investasi dan spekulasi ?

Menabung dapat dikatakan sebagai proses menyisihkan sebagian pendapatan yang diperoleh dalam rangka memenuhi rencana pengeluaran di masa depan dalam jangka pendek, biasanya di bawah 3 tahun.

Hal terpenting dalam Menabung adalah keamanan dari dana yang telah disisihkan. Perubahan nilai dari dana yang ditabung bukanlah suatu hal yang diharapkan karena dana tersebut akan dibutuhkan seluruhnya untuk tujuan tertentu dalam waktu dekat. Produk-produk yang dapat digunakan untuk menabung ini diantaranya adalah: Tabungan/Giro reguler, Deposito Berjangka, Negotiable Certificate of Deposit (NCD), serta Reksadana Pasar Uang.

Ada yang perlu diperhatikan disini, produk Tabungan/Giro Reguler serta Deposito Berjangka merupakan produk perbankan yang dalam jumlah tertentu memperoleh jaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sedangkan produk lainnya tidak memperoleh jaminan dari LPS.

Selain itu, produk-produk di atas hanya memberikan imbal hasil yang kebanyakannya lebih rendah dari tingkat inflasi. Hal ini terutama karena lebih terjaminnya dana yang disimpan pada produk-produk tersebut, baik karena adanya jaminan LPS maupun karena karakternya yang dapat dicairkan sewaktu-waktu.

Investasi, berbeda dari Menabung, investasi adalah sebuah proses jangka panjang. Biasanya ini berarti menempatkan dana yang dimiliki dalam suatu bisnis dengan eksepektasi untuk memperoleh imbal hasil yang jauh lebih tinggi dari tingkat inflasi. Tujuan dari investasi adalah untuk meningkatkan nilai aset yang dimiliki jauh di atas dana awal yang digunakan untuk memperoleh aset tersebut. Produk-produk yang dapat digunakan untuk investasi ini diantaranya: saham, obligasi, properti serta reksadana dengan underlying investasi pada saham, obligasi dan properti.

Mengingat bahwa investasi ini menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi, tentunya terdapat risiko yang lebih besar daripada menabung. Nilai aset investasi seperti saham, obligasi dan bahkan properti bisa berfluktuasi sesuai dengan mekanisme pasar dalam jangka pendek. Namun demikian, dalam jangka panjang, jika invetasi dilakukan dengan proses yang benar maka akan menghasilkan imbal hasil yang jauh lebih tinggi dari tingkat inflasi.

Spekulasi merupakan tindakan mengambil risiko untuk mendapatkan imbal hasil yang tinggi dalam waktu yang singkat. Day trading merupakan contoh spekulasi. Spekulasi dapat dilakukan pada instrumen saham, obligasi, valas, komoditas serta instrumen-instrumen keuangan lainnya yang memiliki tingkat likuiditas tinggi dimana pelaku spekulasi dapat membeli dan menjual aset tersebut dalam hitungan menit bahkan detik.

Spekulator bisa saja mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu singkat, namun kemungkinan untuk merugi dalam jumlah besar juga lebih besar.

Sebagai kesimpulan: Menabung untuk mengamankan dana/aset. Investasi untuk meningkatkan nilai dana/aset. Spekulasi untuk bertaruh dengan dana/aset.

Kutipan berikut dari Benjamin Graham dalam bukunya “The Intelligent Investor” mungkin dapat memberikan tambahan penjelasan tentang perbedaan investasi dan spekulasi:

“An investment operation is one which, upon thorough analysis promises safety of principal and an adequate return. Operations not meeting these requirements are speculative.”

“Investasi adalah sesuatu yang dilakukan melalui analisa yang mendalam yang menjanjikan keamanan dana pokok investasi serta imbal hasil yang menarik. Investasi yang tidak memenuhi kriteria ini semata-mata hanya spekulasi.”

Jadi, apakah anda penabung, investor atau spekulator ?

~cheers~

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s